Rabu, 09 September 2015

Selamat Jalan Peri kecil

                                             


                                                          Selamat Jalan Peri kecil

            Malam itu tidak akan pernah aku lupakan , karena malam itu merupakan malam yang sangat berarti bagi hidupku. Cahaya kunang kunang tiada henti menyinari malam itu, seraya mengiringi kepergian dirimu yang hilang terbawa kegelapan malam. Yah , 1 bulan yang lalu. Memang terasa sangat cepat pertemuan itu, tepat 1 bulan yang lalu ketika liburan sekolah aku bertemu dengannya di desa tempat tinggal nenekku. Pertemuan pertama ku dengan seorang perempuan yang sebaya dengan umurku. Perempuan yang menggunakan gaun One piece berwarna putih serta topi putih yang membuatnya terlihat manis. Hari itu kami bertemu dan berpapasan di sebuah sawah di kaki bukit yang sudah mulai menguning karena telah memasuki musim panen. Saat itu aku hanya menggunakan pakaian kaos lengan pendek berwarna merah serta celana berwarna abu abu yang sedikit berwarna kusam karena aku baru saja bermain di pasir sendirian karena aku tak kenal siapapun di desa itu . Tak kusangka pertemuan itu menjadi awal dari persahabatan kami.
“Hei , jika bisa berubah kamu ingin menjadi warna seperti apa?”  muncul dari mulut manisnya, entah apa yang harus kujawab karena aku tidak paham dengan apa yang diucapkannya.
“eh, apa maksudmu? Menjadi warna? Kalau bisa berubah aku ingin menjadi seorang superhero” jawabku yang tidak nyambung dengan pertanyaannya tadi.
“Super hero? Warna macam apa itu?” tanyanya bingung seolah tak mengerti gurauan yang sudah ku katakan
“Superhero itu bukan warna loh.., tapi jika menjadi warna mungkin saat ini ingin menjadi warna putih” jawaban yang ku berikan karena aku melihat dia menggunakan baju putih dan itu membuatnya tampak indah. “Oh iya siapa namamu? Kata nenek aku tidak boleh bicara dengan orang yang tak ku kenal.”
“Aku Mirani, aku juga orang dari desa ini kok. Hanya saja aku sedang tidur saat ini” jawabnya.
“kalau dia sedang tidur kenapa dia bisa bicara denganku?”pikirku , mungkin dia ini orang gila kali ya. “mendingan ku tinggalin aja deh dia” batinku
“Aku Lhevan, eh Mirani hari sudah sore, aku pulang dulu ya, nanti neneku bisa marah, dah”
Setelah meninggalkannya dia tak bicara ataupun membalas kata kataku, sepertinya pemikiranku terhadapnya tidak sepenuhnya benar. Mungkin  dia tidak gila tapi hanya sedikit tidak sehat. Akhirnya aku berjalan menuju rumah nenek sambil berlari karena hari mulai gelap dan aku takut akan kegelapan. Kunang kunang mulai muncul begitu juga suara kicauan burung sore yang menemaniku dalam perjalanan menuju rumah nenek. Sesampainya dirumah aku bertanya pada nenek.
“Nek, apakah di desa ini ada anak perempuan bernama miranti?” tanyaku secara tiba tiba
“Ya memang ada gadis bernama Mirani. Dia anak yang cantik dan ceria. Tapi..” belum selesai bicara ibu sudah memanggilku untuk segera mandi sehingga aku harus segera menemuinya dan segera mandi supaya tak dimarahi.
            Keesokan harinya aku bermain lagi di sawah milik kakekku. Saat itu kakek sedang mengurusi ternaknya jadi aku berangkat pagi sekali. Udara segar , kicauan burung, pemandangan hijau daun dan kuningnya padi membuat suara langkah kaki ku tak terdengar. Dan saat itu aku segera pergi ke gubuk milik kakek yang letaknya tepat di tepi sawahnya . Dan di kesunyian pagi itu aku melihat indahnya matahari terbit yang muncul dari ufuk timur, matahari yang tadinya tertutup oleh bukit hijau mulai memunculkan sosoknya. Aku menghirup udara pagi sambil menikmati pemandangan indah itu , namun tiba tiba suara yang sangat kecil seperti memanggilku terdengar oleh telingaku.
“Hei, Lhevan. Kamu suka dengan pemandangan ini ya?” aroma bunga tiba tiba tercium oleh hidungku di iringi dengan hadirnya si gadis bertopi yang tak lain adalah Mirani. Aku mulai ketakutan karena masih berfikir mirani adalah anak tak waras. Tapi senyumnya itu membuat pemikiranku berubah.
“Ha..hai M..Mirani, ngapain kamu kesini pagi pagi?” tanyaku sedikit gugup sekaligus takut
“Hihihi Lhevan kenapa kamu kayak ketakutan gitu?” gaya bicara Mirani mulai berubah seperti anak perempuan biasa dan hal itu membuatku sedikit lebih tenang
“Seperti yang ku katakan aku juga anak dari desa ini jadi aku tau kalau disini adalah tempat paling bagus untuk melihat matahari terbit. Lihat saja di belakangmu” setelah diberi tahu aku menoleh perlahan kebelakang. Tak kusangka beberapa warga yang memulai aktivitas menuai waktu sejenak hanya untuk melihat pemandangan ini. aku jadi senang karena banyak warga yang tersenyum kepadaku, yah ibu ku juga bilang kalau orang di desa ini semuanya ramah dan kebanyakan yang tinggal hanyalah para lansia. Jadi Mira adalah anak desa pertama yang ku temui di desa ini. akhirnya aku mulai ngobrol banyak dengan Mira dan dia ternyata anak yang banyak bicara. Kami bermain di sungai yang masih jernih dan arusnya tak begitu deras, lalu kami lanjut bermain petak umpet di semak semak ladang savana yang luas di pinggiran desa. Kami juga bermain dengan orang orang desa yang sedang menggembalakan sapi miliknya. Setelah itu kami bermain di ladang bunga yang penuh dengan warna.
“eh Lhevan. Saat itu aku belum memberitahu kau kan warna yang ku inginkan?”
“ya begitulah, aku tetap masih ingin menjadi warna putih. Kalau kau?” tanyaku
“aku sih ingin menjadi warna cahaya kunang kunang”
“cahaya kunang kunang? Maksudmu putih kehijauan yang cerah?”
“begitulah”
Akhirnya aku selalu bermain dan bermain bersama Mira di sisa Liburanku. Aku hanya menceritakan tentang diriku yang selama ini tinggal dikota hingga aku lupa untuk bertanya tentang Mira yang tinggal di desa ini. mungkin saja dia sangat bahagia bertemu denganku karena jarang ada anak seumurannya di desa ini. Hingga akhirnya hari mulai petang dia berkata kepadaku.
“Lhevan, sebenarnya sudah lama aku ingin menceritakan ini kepadamu. Aku ingin menceritakan tentang diriku” perkataannya membuatku merasa bersalah karena aku egois hanya menceritakan tentang diriku
“oh maaf ya Mira, selama ini aku hanya egois menceritakan diriku.”
“umh.. tak apa apa, aku hanya ingin kau tau sedikit tentang diriku sehingga kau tak akan melupakan ku”
“eh? Bagaimana mungkin sih aku akan melupakanmu mira hahaha, kita kan pasti akan berteman selamanya”
“yah, kurasa sekarang saatnya ku harus menceritakan semuanya. Sebenarnya Lhevan, aku ini bukanlah Mira” tiba tiba saja rasa takut ketika pertama kali bertemu mira muncul lagi dan mulai menghantui ku. Bagaimana kalau mira adalah hantu? Bagaimana kalau dia akan memakanku? Bagaimana jika dia hanya menginginkan tubuhku? Pikiran pikiran itu tak berhenti menghantuiku
“eh.. apa maksudmu mira? Kamu hantu? Kamu tak akan memakanku kan?”
“hihihi kamu ini aneh... aku tak akan memakanmu, dan aku bukan hantu. Sebenarnya aku adalah roh dari Mira, jadi tubuh ini bukanlah tubuh asli ku”
“ka..kau pasti bohongkan?”
“terserah kau percaya atau tidak, tapi yang jelas sekarang ini tubuhku sedang berada di rumah sakit. Dan sebentar lagi kurasa tubuh rapuh ini akan menghilang.
“kamu ngomong apa sih.. aku ga ngerti deh”
Tiba tiba saja puluhan kunang kunang tiba dan memancarkan cahaya yang sangat terang, pemandangan sore yang mulai berubah menjadi gelap. Aku tak punya rasa takut sedikitpun saat itu karena puluhan kunang kunang menerangi sekitar tubuhku dan tubuh mira
“lihat deh mira..ini kunang kunang.. kunang kunang ini memancarkan cahaya kesukaanmu” seakan aku masih tak percaya aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Tetapi tetap saja aku tak bisa. Tubuh Mira yang tadinya utuh mulai menghilang dan pudar dari hadapanku.
“2 Tahun yang lalu, rumahku terbakar, aku tak sempat menyelamatkan diri. Tapi untung saja aku masih bisa hidup karena diselamatkan seseorang, dan orang itu adalah kamu. Saat kita bertemu lagi aku sangat senang jika kau selamat. Tetapi kamu seperti kehilangan ingatan seusai menyelamatkanku. Akhirnya kamu tak pernah ke desa ini setiap liburan hingga akhirnya kita bertemu lagi.”
“Mi..mirani..”
“sekarang tubuhku sedang berada dirumah sakit. Tapi pada akhirnya setelah koma selama 2 tahun aku pun tak bisa menahanya. Aku harus pergi sekarang Lhevan. Kehadiran tubuh palsuku ini hanyalah keinginan untuk mengucapkan terimakasih kepadamu. Jadi Terima kasih untuk semuanya, walaupun kita baru akrab selama 1 bulan ini tapi aku sudah senang bisa mengenalmu Lhevan”
Air mata ku tak bisa terbendung lagi. Aku mulai menangis tersedu sedu karena sahabatku akan pergi meninggalkanku sendirian. Tubuh palsu itu mulai memudar diiringi dengan perginya kunang kunang ke atas langit, dan pada malam itu adalah malam yang tak akan kulupakan , karena aku kehilangan temanku untuk selama lamanya. 
“Selamat tinggal Lhevan... jangan pernah melupakanku...”
“Mirani... kita akan selalu berteman hingga aku pun mati juga... sampai jumpa Mirani.. Terima kasih untuk selama ini... Mira..”
“Sampai jumpa.. Pria yang ku suka..”

Kata terakhir mira tak sempat ku jawab dan untuk pertama kalinya aku mendapat pernyataan seperti itu dari seorang wanita. Topi berwarna putih yang dipakai Mira tergeletak di tanah, dan benda itu adalah kenang kenangan terakhir darinya. Selamat tinggal peri kecil, selamat tinggal Mira.

Si Penghianat

                                                     

Si Penghianat

            Jam sudah menunjukan pukul 07.00 itu merupakan waktu dimulainya pelajaran sekolah. Aku bersekolah di salah satu sekolahan swasta di kota solo. Aku suka sekolah ini , pada awalnya aku memang sedih karena tidak punya teman yang bisa ku ajak ngobrol jadi kadang aku hanya diam di kelas namun sekarang aku punya seorang sahabat baik bernama Fahru. Hari itu ada yang berbeda dari diriku. Aku terlihat lebih rapih dan wangi dibandingkan hari hari biasa. Aku merubah penampilan hanya untuk menarik salah seorang gadis dikelasku. Dia adalah gadis biasa yang tak begitu terkenal ataupun populer dikelasku. Namun aku suka dengan sifatnya yang rajin dan dia juga seorang pecinta novel dia adalah Megi. Aku juga suka dengan novel, aku sering memperhatikannya meskipun dia tak pernah memperhatikanku. Aku sedikit pendiam ketika berada di kelas. Hanya Fahru satu satunya temanku yang bisa ku ajak ngobrol banyak.
            “Vin , kok ngelamun? Mikirin siapa?” tanya Fahru padaku
“Ah nggak kok ru, aku Cuma lagi mikirin kapan mau beli novel terbaru karangan Lexie Xu “ kataku bohong karena aku tak mau menceritakan Megi kepada orang lain.
“Beneran nih? Kalo gitu ayo nanti aja sekalian aku mau beli komik Naruto nih” ajaknya , aku pun meng iyakan nya dengan spontan.
Waktu sekolahpun usai aku segera berkemas untuk segera ke toko buku bersama Fahru. Tetapi saat itu aku melihat Fahru dan Megi asik ngobrol berdua dibawah pohon di lapangan sekolah. Hatiku saat itu dipenuhi panas cemburu. Aku hanya menahan dan berfikir positif kalau Megi hanya berteman dengan Fahru. Namun ketika aku membalikkan badan saat ingin meninggalkan lapangan aku mendengar suara yang membuat hatiku benar benar hancur.
            “Megi , maukah kamu jadi pacar aku?” Kata sahabatku Fahru
“Umm gimana ya ru.. aku sebenernya juga tertarik sama kamu.. tapi..” kata Megi   yang belum selesai mengucapkan kalimatnya
“ah, aku tau kamu suka ya sama Melvin?” kata Fahru
“bu..bukan begitu ru... aku memang tertarik sama Melvin tapi jujur aku juga suka sama kamu” kata Megi
Rasanya Waktu berhenti begitu saja, daun daun yang berguguran melengkapi suasana hatiku saat itu , disaat itu pula aku berkata kepada diriku sendiri
            “Andai saja aku nembak dia duluan, pasti gak akan jadi begini”
Setelah itu aku menghampiri mereka berdua dan mengucapkan selamat kepada mereka meskipun hatiku terasa Hancur.
            “Selamat ya kalian berdua” kataku
“Eh Melvin? Kamu denger barusan?” Tanya Fahru yang seolah takut menyakiti hatiku
“iya denger waktu bagian kamu nembak hehehe...” kataku menutup nutupi
“iya makasih ya vin” kata Megi         
“ o iya vin kalo gitu kita makan bareng yuk buat rayain jadianku, aku traktir deh” kata Fahru yang membuatku remuk karena dia tak ingat janji akan pergi ke toko buku
“Enggak deh ru , kalian berdua aja yang pergi , aku gapapa kok hahaha...”
Saat itu Matahari yang mulai menuju arah terbenam menjadi saksi , airmataku yang menetes perlahan juga menjadi saksi keremukan hatiku yang dihancurkan oleh sahabatku sendiri dan gadis yang kusukai.

TAMAT