Selamat Jalan Peri kecil
Malam itu tidak akan pernah aku
lupakan , karena malam itu merupakan malam yang sangat berarti bagi hidupku.
Cahaya kunang kunang tiada henti menyinari malam itu, seraya mengiringi
kepergian dirimu yang hilang terbawa kegelapan malam. Yah , 1 bulan yang lalu.
Memang terasa sangat cepat pertemuan itu, tepat 1 bulan yang lalu ketika
liburan sekolah aku bertemu dengannya di desa tempat tinggal nenekku. Pertemuan
pertama ku dengan seorang perempuan yang sebaya dengan umurku. Perempuan yang
menggunakan gaun One piece berwarna putih serta topi putih yang membuatnya
terlihat manis. Hari itu kami bertemu dan berpapasan di sebuah sawah di kaki
bukit yang sudah mulai menguning karena telah memasuki musim panen. Saat itu
aku hanya menggunakan pakaian kaos lengan pendek berwarna merah serta celana
berwarna abu abu yang sedikit berwarna kusam karena aku baru saja bermain di
pasir sendirian karena aku tak kenal siapapun di desa itu . Tak kusangka
pertemuan itu menjadi awal dari persahabatan kami.
“Hei
, jika bisa berubah kamu ingin menjadi warna seperti apa?” muncul dari mulut manisnya, entah apa yang
harus kujawab karena aku tidak paham dengan apa yang diucapkannya.
“eh,
apa maksudmu? Menjadi warna? Kalau bisa berubah aku ingin menjadi seorang
superhero” jawabku yang tidak nyambung dengan pertanyaannya tadi.
“Super
hero? Warna macam apa itu?” tanyanya bingung seolah tak mengerti gurauan yang
sudah ku katakan
“Superhero
itu bukan warna loh.., tapi jika menjadi warna mungkin saat ini ingin menjadi
warna putih” jawaban yang ku berikan karena aku melihat dia menggunakan baju
putih dan itu membuatnya tampak indah. “Oh iya siapa namamu? Kata nenek aku
tidak boleh bicara dengan orang yang tak ku kenal.”
“Aku
Mirani, aku juga orang dari desa ini kok. Hanya saja aku sedang tidur saat ini”
jawabnya.
“kalau
dia sedang tidur kenapa dia bisa bicara denganku?”pikirku , mungkin dia ini
orang gila kali ya. “mendingan ku tinggalin aja deh dia” batinku
“Aku
Lhevan, eh Mirani hari sudah sore, aku pulang dulu ya, nanti neneku bisa marah,
dah”
Setelah
meninggalkannya dia tak bicara ataupun membalas kata kataku, sepertinya
pemikiranku terhadapnya tidak sepenuhnya benar. Mungkin dia tidak gila tapi hanya sedikit tidak
sehat. Akhirnya aku berjalan menuju rumah nenek sambil berlari karena hari
mulai gelap dan aku takut akan kegelapan. Kunang kunang mulai muncul begitu
juga suara kicauan burung sore yang menemaniku dalam perjalanan menuju rumah
nenek. Sesampainya dirumah aku bertanya pada nenek.
“Nek,
apakah di desa ini ada anak perempuan bernama miranti?” tanyaku secara tiba
tiba
“Ya
memang ada gadis bernama Mirani. Dia anak yang cantik dan ceria. Tapi..” belum
selesai bicara ibu sudah memanggilku untuk segera mandi sehingga aku harus segera
menemuinya dan segera mandi supaya tak dimarahi.
Keesokan harinya aku bermain lagi di
sawah milik kakekku. Saat itu kakek sedang mengurusi ternaknya jadi aku
berangkat pagi sekali. Udara segar , kicauan burung, pemandangan hijau daun dan
kuningnya padi membuat suara langkah kaki ku tak terdengar. Dan saat itu aku
segera pergi ke gubuk milik kakek yang letaknya tepat di tepi sawahnya . Dan di
kesunyian pagi itu aku melihat indahnya matahari terbit yang muncul dari ufuk
timur, matahari yang tadinya tertutup oleh bukit hijau mulai memunculkan
sosoknya. Aku menghirup udara pagi sambil menikmati pemandangan indah itu ,
namun tiba tiba suara yang sangat kecil seperti memanggilku terdengar oleh
telingaku.
“Hei,
Lhevan. Kamu suka dengan pemandangan ini ya?” aroma bunga tiba tiba tercium
oleh hidungku di iringi dengan hadirnya si gadis bertopi yang tak lain adalah
Mirani. Aku mulai ketakutan karena masih berfikir mirani adalah anak tak waras.
Tapi senyumnya itu membuat pemikiranku berubah.
“Ha..hai
M..Mirani, ngapain kamu kesini pagi pagi?” tanyaku sedikit gugup sekaligus
takut
“Hihihi
Lhevan kenapa kamu kayak ketakutan gitu?” gaya bicara Mirani mulai berubah
seperti anak perempuan biasa dan hal itu membuatku sedikit lebih tenang
“Seperti
yang ku katakan aku juga anak dari desa ini jadi aku tau kalau disini adalah
tempat paling bagus untuk melihat matahari terbit. Lihat saja di belakangmu”
setelah diberi tahu aku menoleh perlahan kebelakang. Tak kusangka beberapa
warga yang memulai aktivitas menuai waktu sejenak hanya untuk melihat
pemandangan ini. aku jadi senang karena banyak warga yang tersenyum kepadaku,
yah ibu ku juga bilang kalau orang di desa ini semuanya ramah dan kebanyakan
yang tinggal hanyalah para lansia. Jadi Mira adalah anak desa pertama yang ku temui
di desa ini. akhirnya aku mulai ngobrol banyak dengan Mira dan dia ternyata
anak yang banyak bicara. Kami bermain di sungai yang masih jernih dan arusnya
tak begitu deras, lalu kami lanjut bermain petak umpet di semak semak ladang
savana yang luas di pinggiran desa. Kami juga bermain dengan orang orang desa
yang sedang menggembalakan sapi miliknya. Setelah itu kami bermain di ladang
bunga yang penuh dengan warna.
“eh
Lhevan. Saat itu aku belum memberitahu kau kan warna yang ku inginkan?”
“ya
begitulah, aku tetap masih ingin menjadi warna putih. Kalau kau?” tanyaku
“aku
sih ingin menjadi warna cahaya kunang kunang”
“cahaya
kunang kunang? Maksudmu putih kehijauan yang cerah?”
“begitulah”
Akhirnya
aku selalu bermain dan bermain bersama Mira di sisa Liburanku. Aku hanya
menceritakan tentang diriku yang selama ini tinggal dikota hingga aku lupa
untuk bertanya tentang Mira yang tinggal di desa ini. mungkin saja dia sangat
bahagia bertemu denganku karena jarang ada anak seumurannya di desa ini. Hingga
akhirnya hari mulai petang dia berkata kepadaku.
“Lhevan,
sebenarnya sudah lama aku ingin menceritakan ini kepadamu. Aku ingin
menceritakan tentang diriku” perkataannya membuatku merasa bersalah karena aku
egois hanya menceritakan tentang diriku
“oh
maaf ya Mira, selama ini aku hanya egois menceritakan diriku.”
“umh..
tak apa apa, aku hanya ingin kau tau sedikit tentang diriku sehingga kau tak
akan melupakan ku”
“eh?
Bagaimana mungkin sih aku akan melupakanmu mira hahaha, kita kan pasti akan
berteman selamanya”
“yah,
kurasa sekarang saatnya ku harus menceritakan semuanya. Sebenarnya Lhevan, aku
ini bukanlah Mira” tiba tiba saja rasa takut ketika pertama kali bertemu mira
muncul lagi dan mulai menghantui ku. Bagaimana kalau mira adalah hantu?
Bagaimana kalau dia akan memakanku? Bagaimana jika dia hanya menginginkan
tubuhku? Pikiran pikiran itu tak berhenti menghantuiku
“eh..
apa maksudmu mira? Kamu hantu? Kamu tak akan memakanku kan?”
“hihihi
kamu ini aneh... aku tak akan memakanmu, dan aku bukan hantu. Sebenarnya aku
adalah roh dari Mira, jadi tubuh ini bukanlah tubuh asli ku”
“ka..kau
pasti bohongkan?”
“terserah
kau percaya atau tidak, tapi yang jelas sekarang ini tubuhku sedang berada di
rumah sakit. Dan sebentar lagi kurasa tubuh rapuh ini akan menghilang.
“kamu
ngomong apa sih.. aku ga ngerti deh”
Tiba
tiba saja puluhan kunang kunang tiba dan memancarkan cahaya yang sangat terang,
pemandangan sore yang mulai berubah menjadi gelap. Aku tak punya rasa takut
sedikitpun saat itu karena puluhan kunang kunang menerangi sekitar tubuhku dan
tubuh mira
“lihat
deh mira..ini kunang kunang.. kunang kunang ini memancarkan cahaya kesukaanmu”
seakan aku masih tak percaya aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Tetapi
tetap saja aku tak bisa. Tubuh Mira yang tadinya utuh mulai menghilang dan
pudar dari hadapanku.
“2
Tahun yang lalu, rumahku terbakar, aku tak sempat menyelamatkan diri. Tapi
untung saja aku masih bisa hidup karena diselamatkan seseorang, dan orang itu
adalah kamu. Saat kita bertemu lagi aku sangat senang jika kau selamat. Tetapi
kamu seperti kehilangan ingatan seusai menyelamatkanku. Akhirnya kamu tak
pernah ke desa ini setiap liburan hingga akhirnya kita bertemu lagi.”
“Mi..mirani..”
“sekarang
tubuhku sedang berada dirumah sakit. Tapi pada akhirnya setelah koma selama 2
tahun aku pun tak bisa menahanya. Aku harus pergi sekarang Lhevan. Kehadiran
tubuh palsuku ini hanyalah keinginan untuk mengucapkan terimakasih kepadamu.
Jadi Terima kasih untuk semuanya, walaupun kita baru akrab selama 1 bulan ini
tapi aku sudah senang bisa mengenalmu Lhevan”
Air
mata ku tak bisa terbendung lagi. Aku mulai menangis tersedu sedu karena
sahabatku akan pergi meninggalkanku sendirian. Tubuh palsu itu mulai memudar
diiringi dengan perginya kunang kunang ke atas langit, dan pada malam itu
adalah malam yang tak akan kulupakan , karena aku kehilangan temanku untuk
selama lamanya.
“Selamat
tinggal Lhevan... jangan pernah melupakanku...”
“Mirani...
kita akan selalu berteman hingga aku pun mati juga... sampai jumpa Mirani..
Terima kasih untuk selama ini... Mira..”
“Sampai
jumpa.. Pria yang ku suka..”
Kata
terakhir mira tak sempat ku jawab dan untuk pertama kalinya aku mendapat
pernyataan seperti itu dari seorang wanita. Topi berwarna putih yang dipakai
Mira tergeletak di tanah, dan benda itu adalah kenang kenangan terakhir
darinya. Selamat tinggal peri kecil, selamat tinggal Mira.

